Selasa, 29 November 2022

CERPEN (Mengembangkan Hikayat dalam Bentuk Cerpen)

 


Dalam Sakitmu

Oleh Yeti Mulyati

 

“Sholat pak!” Bisikku lirih.

“Ntar… dingin wudhunya,” Lirihnya sambil menyelonjorkan kedua kakinya.

“Biar kumasakkan air hangat ya Pak?”

“ntar aja ndo, toh waktu ashar masih panjang,” aku kehabisan kata-kata. Ku hela napasku panjang-panjang. Ku tunggu Bapak untuk sholat. waktu maghrib pun tiba. Tapi Bapak tidak bergeming dari tempat duduknya. Malah ku lihat dia tertawa terbahak-bahak melihat siaran televisi. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Masih kuingat dulu ketika aku masih kecil Bapak selalu mendisiplinkan anak-anaknya untuk sholat. Bahkan aku pernah melihat kakakku yang paling besar, kakinya dipukul dengan tiga helai sapu lidi. Akibatnya terlihat guratan-guratan merah di kakinya. Sejak saat itu aku tidak pernah meninggalkan sholat karena takut. Namun kini aku merasa sholat itu suatu kebutuhan. Mungkin ini hasil dari kedisiplinan yang bapak tanamkan. Dari rasa takut timbul kepatuhan kemudian menjadi kebiasaan dan membekas sampai saat ini menjadi suatu kebutuhan. Jika aku meninggalkan sholat rasa sesal dalam hati, merasa menjadi manusia yang paling durja.

            Kini bapakku sudah menua. Kadang berperilaku seperti anak kecil. Sejak pensiun dia sering sakit-sakitan. Bahkan setelah ibu meninggal dia sakit parah, malah sering  bolak-balik ke rumah sakit. Dalam sakitnya dia pernah berkata akan rajin ibadah kalau Tuhan mengangkat penyakitnya. Akan selalu  ke masjid jika tubuhnya sehat. Dan akhirnya Tuhan mengabulkan doanya. Tuhan telah mendengar pintanya. Ketika awal sembuh dia rajin ke masjid. Saat tubuhnya pulih dia perbanyak tadarus dan sholat-sholat sunat. Namun itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Aku sering mengingatkannya secara halus. Atau sengaja ku putar ceramah subuh di radio. Aku tidak berani secara terang-terangan menasehatinya. Aku takut hati bapakku terluka. Rasa seganku padanya membuat keberanianku ciut. Kadang aku sering menggugat dalam hatiku. Mana ajaran-ajaran Bapak dulu? Nasehat yang sering Bapak dengung-dengungkan pada anak-anakmu.

            “Kak nangis ya?” Aku terhenyak dari lamunanku.

            “Kapan kamu dating?”

            “Dari tadi.”

            “Mana pesanan Bapak?”

            “Tuh di tas.” Sambil memonyongkan mulutnya kea rah tas.”Bagaimana kemajuan bapak, Kak?”

            “Ya begitulah, kadang sering sasar”

            “Sholatnya?” Aku hanya bisa geleng kepala.

            Sekarang Bapak dirawat lagi di rumah sakit. Penyakit lamanya kambuh. Padahal sudah hampir tiga tahun belakangan ini Bapak sehat. Dia tertidur pulas setelah selama tiga hari gelisah. Mungkin pengaruh obat. Kutatap wajahnya yang dipenuhi keriput. Ketegasannya dulu tak Nampak. Kini kau seperti anak kecil yang sudah kecapean bermain. Tak terasa ada yang dingin dipipiku. Aku tak tahan melihatmu dalam ketidakberdayaan. Aku takut Bapak meninggal dalam keadaan su’ulkhotimah. Ya Alloh kembalikan Bapakku yang dulu. Yang taat beribadah pada-Mu. Dia telah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi orang-orang yang sukses. Dia telah membentuk karakter-karakter yang islami.

            Selalu kuingat ajaran Bapak. Saat itu aku kelas tiga MI. “Sholat ibarat angka satu dan ibadah-ibadah lainnya seperti angka nol. Jika angka satu disandingkan dengan angka nol akan memiliki nilai. Seperti kamu sholat berarti dapat angka satu. Kemudian setelah sholat, bantu ibu cuci piring dapat angka nol. Jika disandingkan sholat dan cuci piring, pagi itu kamu sudah dapat nilai sepuluh. Kemudian kamu buatkan kopi untuk bapak dapat lagi angka nol. Berarti kamu sudah mengumpulkan angka satu dan angka nol sebanyak dua. Berarti nilaimu seratus. Dan begitu seterusnya kamu lakukan amalan lain nilaimu akan semakin banyak”. Bapak tersenyum lebar sambil mencubit hidungku.

“Tapi Pak, kalau aku cuman cuci piring dan buatkan kopi untuk Bapak, nilainya berapa?” Tanyaku sambil menatap wajah Bapak dengan antusias.

“Kamu tidak Sholat?” Tanya bapak menyelidik. Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Ya kamu rugi. Kamu dapat nilai nol dan nol jika disandingkan tetap nol”. Aku hanya bisa mengerutkan kening.

“Jadi sholat itu sangat penting ya Pak?” gumamku.

“Dalam keadaan apapun kita harus sholat. Jika sedang sakit bisa sholat sambil duduk atau berbaring atau dengan isyarat gerakan mata sesuai dengan kemampuan kita saat itu”.

            “Ranti!” Aku terhenyak dari lamunanku. Nampak Bapak melambaikan tangan padaku.

            “Iya Pak?” langsung aku menghampirinya.

            “Bapak belum sholat ya. Bimbing Bapak sholat”. Alhamdulillah akhirnya doaku terkabul juga. Mudah-mudahan Bapak selalu istiqomah.

Selang beberapa hari Bapak berangsur sehat dan dokter memperbolehkan pulang. Sudah hampir empat bulan kesehatan Bapak pulih seutuhnya. Dia tidak pernah meninggalkan sholat, bahkan selalu berjamaah di mesjid. Namun rasa khawatir menggeliat dihatiku. Aku takut setelah diberi kesehatan Bapak lupa lagi sholat. Aku tepis pikiran itu jauh-jauh. Yang terpenting sekarang Bapak sudah sehat dan selalu sholat berjamaah.

Saat itu bulan Ramadhan. Bapak tidak pernah meninggalkan shaum bahkan sholat tarawih pun tak pernah absen. Kadang aku juga khawatir kesehatan Bapak kambuh. Bahkan aku pernah menawarkan bayar pidyah untuk mengganti puasa. Namun Bapak menolak. Dia ingin menggunakan hari tuanya untuk beribadah. Mendengar hal itu hatiku terasa sejuk.

Waktu sahur pun tiba. Seperti biasa aku menyiapkan makanan untuk sahur. Anakku dan suamiku sudah berada di ruang makan. Bapak belum aku bangunkan. Biasanya dia selalu mengakhirkan sahur. Katanya itu termasuk sunat.

“Bapak belum bangun?” Kata suamiku, “Udah jam setengah empat.”

“Biasanya Bapak bangun sendiri. Tapi biar aku bangunkan saja.” Selaku. Ketika sampai dikamarnya aku panggil Bapak dengan lirih. Namun dia tidak menyahut. Aku hampiri dia. Kedua tangannya sedekap di atas dadanya. Matanya tertutup rapat. Kemudian aku menggoyangkan tubuhnya pelan-pelan. “Pak waktunya sahur.” Namun tiba-tiba tangannya terjatuh disampingnya, dan seluruh tubuhnya tergoyang semua. Aku kaget. Kupegang tangan dan kakinya. Dingin. “Ya Alloh apakah ini sudah waktunya”, pikirku dalam hati. Kupanggil suamiku, “Ayah tolong panggil Ustad Ilyas,” Suaraku terputus-putus dengan isak tangis. Entah tangis bahagia atau tangis sedih. Yang jelas bapakku meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Wallahu’alam Bisshowab.

(Cerita ini didasarkan pada Hikayat Patani yang mengisahkan seorang raja yang sakit parah.  Tak seorangpun dapat menyembuhkannya. Hingga suatu saat datanglah seorang Syekh yang dapat menyembuhkan penyakit raja. Raja pun berjanji akan masuk Islam. Namun ternyata raja ingkar janji. Kemudian raja pun sakit kembali).




0 komentar:

Posting Komentar